Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2019

4 Rumah bagi Lelaki Minang


Kamu lelaki Minang? Selamat kalau begitu, karena kamu tidak mempunyai rumah. Begitulah kondisi kehidupan dari lelaki Minang yang perlu kalian tahu. Selamanya kalian tidak akan punya rumah sendiri karena hanya ada 4 rumah ini :

1. Rumah Rang Gaek
Rumah pertama bagi seseorang lelaki Minang adalah “rumah rang gaek” atau rumah orang tua. Rumah ini sifatnya hanya sementara bagi seorang lelaki Minang. Karena setelah ia akhil balikh, ia harus memulai bersosialisasi dengan teman sebayanya dan tinggal di rumah kedua.

2. Surau
Di sinilah ia akan tumbuh, dibesarkan serta menuntut ilmu yang akan berguna bagi kehidupannya di kemudian hari, terutama ilmu agama. Sebagian besar hari-hari mereka akan dihabiskan di sini sampai dirasa cukup untuk kemudian menuju level kehidupan yang selanjutnya, apakah itu bekerja atau merantau.

3. Rumah Bini / Anak
Rumah selanjutnya bagi seorang lelaki Minang adalah “rumah bini” atau kadang disebut juga “rumah anak”. Ini akan ada ketika seseorang lelaki Minang telah menikah dan beristri serta memiliki keluarga.

4. Rumah Kamanakan
Selain 3 rumah itu, lelaki Minang masih punya rumah lain yang disebut “rumah kamanakan”. Karena sebagai seorang lelaki, lelaki Minang punya peran sebagai seorang mamak yang mengayomi kamanakannya.

Sumber : infosumbar
=====================================================================
Dari bahasan di atas, perlu saya perjelas bahwa maksud dari tidak memiliki rumah sendiri adalah tidak memiliki rumah yang dimiliki secara mutlak. Sehingga dari keempat rumah itu, kita terkesan seperti menumpang, karena bukan di rumah yang dimiliki secara mutlak. Dan itu termasuk “rumah rang gaek”, karena rumah itu kepunyaan mutlak oleh orang tua dari lelaki Minang itu.

Sedangkan “rumah bini / anak”, perlu saya jelaskan kepada siapapun yang non-Minang maupun orang Minang yang kekurangan ilmu pengetahuan tentang Minangkabau dan termasuk juga bagi yang besar di perantauan, bahwa “rumah bini / anak” di sini lebih jelasnya adalah rumah yang pada dasarnya dimiliki mutlak oleh mintuo (mertua), karena dalam adat Minangkabau, seorang lelaki Minang yang menikah dengan perempuan Minang, haruslah tinggal di rumah si perempuan tersebut, dan dalam ajaran Islam pun tidak ada yang mengharuskan harus tinggal di rumah si lelaki (bagi perempuan), maupun sebaliknya.

Jika, di luar kalangan orang Minang, tentu biasanya akan tinggal di rumah si lelaki (bagi si perempuan), namun tidaklah harus begitu, karena itu bisa tergantung kesepakatan dari kedua belah pihak. Namun, bagi orang Minang, tentu si lelaki harus tinggal di rumah si perempuan. Akan tetapi, bukan berarti selamanya tinggal di rumah si perempuan (bagi lelaki Minang tersebut), karena jika ada kemampuan mendirikan rumah sendiri atau membeli rumah, maka boleh si lelaki dan si perempuan yang bersama-sama membangun keluarga itu akan tinggal di rumah yang baru dibangunnya atau dibelinya.

"Urang Sumando" di Minangkabau


Dalam Minangkabau, ada 4 jenis sumando, di antaranya yaitu :
1.      Sumando Kacang Miang
Sumando jenis ini merupakan sumando yang suka membuat kekacauan, baik di dalam keluarga istrinya maupun di dalam lingkungan kampung istrinya. Sumando jenis ini akan menjadi momok dan dibenci di lingkungan keluarga maupun kampung istrinya. Ia akan menjadi aib bagi keluarga istrinya.

2.      Sumando Lapiak Buruak
Ini merupakan sumando pemalas. Ia malas mencari nafkah, kerjanya hanya duduk-duduk di warung menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia. Ibarat “lapiak buruak”, ia tidak terpakai di dalam keluarga istrinya dan hanya menjadi aib serta beban.

3.      Sumando Langau Hijau
Ibarat langau hijau yang terbang hanya untuk bertelur, sumando jenis ini kerjanya hanya memperbanyak anak. Ia tak punya prinsip dalam hidupnya, bahkan jika ada peluang menambah istri, hal itulah yang akan dia kejar. Dalam beberapa kasus bahkan sumando jenis ini tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk mengejar wanita lain.

4.      Sumando Niniak Mamak
Di antara seluruh jenis sumando, maka jadilah sumando jenis ini. Inilah sumando idaman dimana dia pandai menempatkan diri dan tau posisinya sebagai seorang Sumando. Ia tau perannya terhadap keluarganya, tau kewajiban kepada istrinya dan tau batas-batas dalam keluarga istrinya. Dia bisa diajak berdiskusi.


Referensi : Buku “Tau jo Nan Ampek – Pengetahuan yang Empat menurut Ajaran dan Budaya Alam Minangkabau” (Karangan: M. Sayuti Dt. Rajo Penghulu).

Sumber : infosumbar

Catatan : Sumando adalah peran seorang suami bagi istri, menantu laki-laki bagi mertuanya, dan sebagainya; yang memiliki peran dalam lingkungan keluarga istri (bagi suaminya).

Rabu, 05 Agustus 2015

Rumah Gadang, Bangunan yang Tahan Gempa



Pernah muncul pertanyaan, kenapa Rumah Gadang tidak menggunakan beton dan besi sebagai bahan bangunan, bahkan istana Pagaruyung sekalipun tidak menggunakan bahan tersebut; berbeda sekali dengan istana-istana di pesisir timur Sumatera, sebut saja misalnya istana masyarakat Melayu Deli/Maimun di Medan atau istana Siak Sri Indrapura di Riau yang begitu megah dengan beton dan besinya, padahal Minangkabau terkenal sebagai penghasil emas pada zaman dahulu, jadi tidak mungkin jika kendalanya adalah masalah dana. Lalu apakah alasan kenapa Rumah Gadang hanya berbahan kayu?
Tahukah anda bahwa Rumah Gadang dirancang untuk menahan guncangan gempa yang sangat kuat? Sebagaimana kita ketahui pesisir barat Sumatera khususnya Ranah Minang sangat rawan diguncang gempa, sebab daerah ini dilalui oleh patahan Semangko. Ngarai Sianok dan lembah Harau merupakan bentuk aktifitas patahan Semangko ini. Ditambah lagi di lautnya merupakan tempat bertemunya lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia yang menghujam ke bawah pesisir barat dan membentuk jajaran gunung-gunung di Sumatera. Sementara di pesisir timur Sumatera tidak terdapat pertemuan lempeng, patahan, ataupun gunung-gunung. Itulah perbedaan geografis antara pesisir barat dengan pesisir timur.
Untuk menghadapi hal tersebut, nenek moyang orang Minang ternyata memiliki pemikiran lebih maju dari zamannya atau pemikiran yang futuristik dalam membangun sebuah rumah. Konstruksi Rumah Gadang ternyata telah dirancang untuk bisa menahan gempuran gempa bumi. Tidak pernah kita membayangkan sebuah karya yang melampaui dalam hal kemajuan teknologi pada masa lalu.
Rumah Gadang di Ranah Minang membuktikan ketangguhan rekayasa konstruksi yang memiliki daya lentur dan soliditas saat terjadi guncangan gempa hingga berkekuatan di atas 8 skala richter sekalipun. Ternyata, rahasianya terletak pada rancangan rangka rumah. Rangka Rumah Gadang dibuat dari kayu. Bentuknya dibuat menyerupai sebuah perahu. Ada dua anjungan di ujung kanan dan kiri. Anjungan ini dibuat tanpa tiang penyangga. Akibatnya, rangka kayu bagian atas seperti ditarik ke ujung kanan dan kiri. Karena tanpa penyangga, anjungan ini membuat rangka kayu jadi mendapat beban ke bawah. Dengan begitu, rangka rumah ini berdiri sangat kokoh.
Bentuk Rumah Gadang membuatnya tetap stabil menerima guncangan dari bumi. Rumah Gadang juga tidak menggunakan paku sebagai pengikat, tetapi berupa pasak sebagai sambungan membuat bangunan memiliki sifat sangat lentur. Selain itu kaki atau tiang bangunan bagian bawah tidak pernah menyentuh bumi atau tanah. Tapak tiang dialas dengan batu sandi. Batu ini berfungsi sebagai peredam getaran gelombang dari tanah, sehingga tidak mempengaruhi bangunan di atasnya. Kalau ada getaran gempa bumi, Rumah Gadang hanya akan berayun atau bergoyang mengikuti gelombang yang ditimbulkan getaran tersebut.
Darmansyah, ahli konstruksi dari Lembaga Penanggulangan Bencana Alam, Sumatera Barat; menyebutkan bahwa dari sisi ilmu konstruksi, bangunan Rumah Gadang jauh lebih maju setidaknya 300 tahun dibanding konstruksi yang ada di dunia pada zamannya.
MasyaAllah, semoga Rumah Gadang tidak ditinggalkan oleh orang Minang dan punah. Dan semoga setiap kaum di Ranah Minang kembali mendirikan Rumah Gadang.


Sumber :

Senin, 27 Juli 2015

Sejarah Silek (Silat)






Silek atau biasa disebut silat adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Selanjutnya daerah Nusantara ini adalah daerah yang subur dan merupakan tempat rempah-rempah penting sejak abad pertama masehi, oleh sebab itu, tentu saja ancaman-ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan Nusantara ini.
Merujuk pada buku Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran Silat Minangkabau karangan Mid Djamal (1986), maka dapat diketahui bahwa pendiri dari silat Minangkabau adalah Datuak Suri Dirajo diperkirakan berdiri pada tahun 1119 Masehi di daerah Pariangan Padangpanjang, Minangkabau. Lebih lanjut diuraikan oleh Djamal bahwa pengawal dari Datuak Suri Dirajo ini adalah Kambiang Utan (berasal dari Kamboja), Harimau Campo (berasal dari daerah Champa), Kuciang Siam (datang dari daerah Siam atau Thailand) dan Anjiang Mualim (datang dari negeri Persia). Di masa Datuak Suri Dirajo inilah silek Minangkabau pertama kali diramu dan tentu saja gerakan-gerakan beladiri dari pengawal yang empat orang tersebut turut mewarnai silek itu sendiri. Nama-nama mereka seperti nama hewan (kambing, harimau, kucing dan anjing), namun tentu saja mereka adalah manusia, bukan hewan menurut persangkaan beberapa orang. Mereka bertugas  sebagai dubalang di daerah Minangkabau, yaitu berupa :


  • Harimau Campo ditugaskan untuk membawa kelompok untuk Luhak Agam.
  • Kambiang Hutan ditugaskan untuk tinggal di Luhak Limapuluh Koto.
  • Kuciang Siam diarahkan ke wilayah Lasi Tanah Data.
  • Anjiang Mualim membawa kelompok ke wilayah rantau.

Seiring berjalannya waktu, semakin bertambah wilayah di Minangkabau sejalan dengan perkembangan silek yang mempunyai beberapa jenis seperti :
1.                  silek Tuo,
2.                  silek Harimau,
3.                  silek Lintau,
4.                  silek Kumango,
5.                  silek Balam,
6.                  silek Sitaralak,
7.                  silek Luncua,
8.                  silek Ulu Ambek,
9.                  silek Pauah,
10.              dan lain-lain.
Para tuo silek dan pandeka telah mengembangkan silat di Nusantara dan memberi pengaruh pada aliran dan teknik silat di Sumatera, Paparan Sunda dan Semenanjung Melayu. Sifat perantau dari masyarakat Minangkabau telah membuat silek Minangkabau sekarang tersebar kemana-mana di beberapa belahan dunia.

Penyebaran dan Pengaruh Silek Di Dalam Negeri
Silek yang menyebar ke daerah rantau (luar kawasan Minangkabau) ada yang masih mempertahankan format aslinya dan ada yang telah menyatu dengan aliran silat lain di kawasan Nusantara. Beberapa perguruan silat menyatukan unsur-unsur silat di Nusantara dan silek Minang termasuk ke dalam jenis silat yang mempengaruhi gerakan silat mereka. Beberapa contoh yang dapat diberikan adalah :
  • Silek 21 Hari atau dikenal juga dengan nama silek Pusako Minang. Silat ini berkembang di wilayah perbatasan antara Pasaman dan provinsi Riau. Silat ini masih jarang diungkapkan di dalam kajian silek Minangkabau. Jadi keterangan tentang silat ini masih terbatas dan dalam penelitian. Silat ini lebih menekankan aspek spiritual dan berasal dari kalangan pengamal tarekat di Minangkabau. Saat ini masih ada keturunan Pagaruyung, Minangkabau yang mengajarkan silat ini di beberapa kawasan di provinsi Riau, seperti di Rokan Hulu (Kuntu Darussalam), Mandau Duri, Rokan Hilir, dan Perawang. Silat ini tergolong jenis yang ditakuti di daerah tersebut dan juga berkembang sampai ke Malaysia.
  • Silat Sabandar dari Tanah Sunda dikembangkan oleh perantau Minangkabau yang bernama Mohammad Kosim di Kampung Sabandar, Jawa Barat. Silek ini disegani di Tanah Sunda. Seiring dengan perkembangan dan pembauran dengan tradisi silat di Tanah Sunda, silat ini telah mengalami variasi sehingga bentuknya menjadi khas untuk daerah tersebut.
  • Silat Pangian di Kuantan Singingi, provinsi Riau. Terdiri dari silek Pangian Jantan dan silek Pangian Batino. Silek Pangian ini asalnya dari daerah Pangian, Lintau, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Silek ini adalah silek yang legendaris dan disegani dari wilayah Kuantan. Di Kuantan tentu saja silek ini telah mengalami perkembangan dan menjadi ciri khas dari tradisi wilayah tersebut. Awalnya pendiri dari silek ini adalah petinggi dari kerajaan Minangkabau yang pergi ke daerah Kuantan.
  • Silek Minangkabau menyebar ke daerah Deli (sekitar Medan) di pesisir timur provinsi Sumatera Utara akibat migrasi penduduk Minangkabau di masa lalu. Saat sekarang tradisi silat itu masih ada.
  • Perguruan Silat Setia Hati, yaitu perguruan besar dari Tanah Jawa. Pada masa dahulunya, pendiri dari perguruan ini adalah Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo, yang banyak belajar dari silek Minangkabau di samping belajar dari berbagai aliran dari silat di Tanah Sunda, Betawi, Aceh, dan kawasan lain di Nusantara. Silek Minangkabau telah menjadi unsur penting dalam jurus-jurus Perguruan Silat Setia Hati. Setidaknya hampir semua aliran silek penting di Minangkabau telah beliau pelajari selama di Sumatera Barat pada tahun 1894-1898. Beliau adalah tokoh yang menghargai sumber keilmuannya, sehingga beliau memberi nama setiap jurus yang diajarkannya dengan sumber asal gerakan itu. Beliau memiliki watak pendekar yang mulia dan menghargai guru.
  • Silat Perisai Diri, yang didirikan oleh RM Soebandiman Dirdjoatmodjo atau dikenal dengan pak Dirdjo, yang memiliki beberapa unsur Minangkabau di dalam gerakannya. Silat Perisai Diri memiliki karakter silat tersendiri yang merupakan hasil kreativitas gemilang dari pendirinya. Perisai Diri termasuk perguruan silat terbesar di Indonesia dengan cabang di berbagai negara.
  • Satria Muda Indonesia, yang pada awalnya berasal dari Perguruan Silat Baringan Sakti yang mengajarkan silek Minangkabau, kemudian berkembang dengan menarik berbagai aliran silat di Indonesia ke dalam perguruannya.
  • Silat Baginda di Sulawesi Utara, yaitu silat yang berasal dari pengawal Tuanku Iman Bonjol yang bernama Bagindo Tan Labiah (Tan Lobe) yang dibuang ke Manado pada tahun 1840. Tan Labiah meninggal dunia pada tahun 1888.
Penyebaran Silek Di Luar Negeri
  • Singapura
    Posisi Singapura atau dahulu disebut Tumasik yang strategis membuat wilayah ini dikunjungi oleh berbagai bangsa semenjak dahulu kala. Silek Minangkabau telah menyebar ke sana pada tahun 1160 dengan ditandainya gelombang migrasi bangsa Melayu dari Minangkabau.
  • Malaysia
    Penyebaran silek Minangkabau di negeri Malaysia terjadi terutama akibat migrasi penduduk Minangkabau ke Malaka pada abad ke-16 dan juga karena adanya koloni Minangkabau di Negeri Sembilan. Silek Pangian, silek Sitaralak, silek Luncur juga berkembang di negeri jiran ini. Silat Cekak, salah satu perguruan silat terbesar di Malaysia juga memiliki unsur-unsur aliran silek Minangkabau, seperti silek Luncua, Sitaralak, Kuncian Kumango, dan Lintau di dalam materi pelajarannya. Posisi Malaysia yang rawan dari serangan berbagai bangsa terutama bangsa Thai membuat mereka perlu merancang sistem beladiri efektif yang merupakan gabungan antara beladiri Aceh dan Minangkabau. Beberapa perguruan silat menggunakan nama Minang atau Minangkabau di dalam nama perguruannya.
  • Filipina
    Penyebaran Islam ke Mindanao, yang dilakukan oleh Raja Baginda, keturunan Minangkabau dari kepulauan Sulu pada tahun 1390. Penyebaran ini mungkin akan mengakibatkan penyebaran budaya Minangkabau, termasuk silat ke wilayah Mindanao. Bukti-buktinya masih perlu dikaji lebih dalam.
  • Brunei Darussalam
    Penyebaran silek ke Brunei seiring dengan perjalanan bangsawan dan penduduk Minangkabau ke negeri Brunei. Seperti yang sudah dijelaskan pada awal tulisan ini, bahwa silek adalah bagian dari budaya Minangkabau. Oleh sebab itu mereka yang pergi merantau akan membawa ilmu beladiri ini ke mana pun, termasuk ke Brunei Darussalam. Kajian hubungan silek Minangkabau dan Brunei masih dibutuhkan, namun yang pasti, para pemuka kerajaan Brunei memiliki pertalian ranji dengan raja-raja di Minangkabau. Ada dugaan bahwa Awang Alak Betatar, pendiri kerajaan Brunei (1363-1402) yang gagah berani, berasal dari Minangkabau, karena gelar-gelar dari saudara-saudara beliau mirip dengan gelar-gelar dari Minangkabau. Namun catatan tertulis diketahui bahwa migrasi masyarakat Minangkabau berawal dari pemerintahan Sultan Nasruddin (sultan Brunei ke-15) pada tahun 1690-1710 yang ditandai dengan tokoh yang bernama Dato Godam (Datuk Godam) atau Raja Umar dari keturunan Bandaro Tanjung Sungayang, Pagaruyung, Minangkabau.
  • Austria
    Perguruan sileknya bernama PMG=Sentak, dikembangkan oleh Pandeka Mihar.
  • Spanyol
    Perguruan sileknya bernama Harimau Minangkabau, dikembangkan oleh Guru Hanafi di kota Basque.
  • Belanda
    • Silek Tuo dikembangkan oleh Doeby Usman,
    • Satria Muda, dikembangkan oleh Cherry dan Nick Smith pada 1971. Mereka adalah murid dari Guru W. Thomson,
    • Paulu Sembilan; silat dari Pauh Sembilan, kota Padang.
  • Hongkong
    Perguruannya bernama Black Triangle Silat, dikembangkan oleh Pendekar Scott McQuaid. Pendekar Scott adalah termasuk dalam jalur waris dari Guru Hanafi, sama dengan Guru de-Bordes di Ghana.
  • Amerika Serikat
    • Bapak Waleed adalah salah satu tokoh yang mengembangkan silek Minangkabau di USA,
    • Baringin Sakti, yang dikembangkan oleh Guru Eric Kruk.
  • Perancis
    Perguruannya bernama Saudara Kaum, dikembangkan oleh Haji Syofyan Nadar. Perguruan ini juga memiliki guru yang mengajarkan silat dari Tanah Sunda seperti Maenpo Cianjur (Sabandar, Cikalong, dan Cikaret) dan silat Garis Paksi.
  • Ghana, Afrika
    Perguruannya bernama Harimau Minangkabau, dikembangkan oleh Guru de-Bordes yang belajar ke Guru Hanafi dengan permainan silat Harimau.

Sumber :